Kisah Unik Bule dari Monash University yang Tertarik Budaya Indonesia!

Beragamnya budaya Indonesia membuat kagum banyak orang, bahkan warga negara asing (WNA). Tidak sedikit dari mereka yang datang dari berbagai benua untuk menikmati masakan khas Indonesia, kebudayaannya, hingga ada yang sengaja belajar bahasa Indonesia.

Sama seperti yang dilakukan Howard Manns, Emily Heng, dan Margaret dari Monash University, Australia. Mereka menceritakan pengalaman mereka tentang Indonesia, seperti apa kisahnya?

1. Bahasa gaul Indonesia yang dijadikan penelitian

Kisah Unik Bule dari Monash University yang Tertarik Budaya Indonesia

Howard yang merupakan pengajar bahasa, literatur, kebudayaan, dan linguistik dari Monash University mengaku membuat penelitian tentang bahasa gaul Indonesia.

“Riset saya tentang orang Indonesia yang muda dan bahasa orang muda, bahasa gaul, slang,” ungkapnya di Monash University, Victoria, Australia beberapa waktu lalu.

Bahasa gaul yang ia teliti adalah pengunaan bahasa dari beberapa budaya di Indonesia yang sering kali dicampuradukan.

“Pertama kali saya ke Indonesia, saya mau meneliti bahasa yang dicampur, bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Jakarta, itu di Malang. Bahasa gaul menarik sekali sama saya, itu proyek pertama saya,” papar Howard.

2. Katanya bahasa Indonesia itu gampang?

Kisah Unik Bule dari Monash University yang Tertarik Budaya Indonesia

Emily adalah salah satu mahasiswi di Monash University. Ia juga merupakan Presiden terpilih Australia Indonesia Youth Association (AIYA), sebuah asosiasi yang menjembatani hubungan orang Indonesia dan Australia.

Berbeda yang Howard yang memang tertarik dengan Indonesia dan menjadikan bahasa Indonesia sebagai risetnya, Emily justru mengambil studi bahasa Indonesia.

“Saya ambil pelajaran bahasa indonesia karena saya pikir itu gampang,” celotehnya sambil tertawa.

Namun kini ia memiliki misi lain, sebagai presiden AIYA, Emily ingin memperbaiki hubungan antara Indonesia dan Australia.

“Kami juga ada kegiatan pendidikan, language exchange setiap minggu dan ada banyak orang Australia yang belajar Indonesia dan bercakap-cakap dengan orang Indonesia. Kami juga ada kegiatan sosial seperti malam masak-masak. Ada masakan Indonesia dan masakan Australia atau western seperti ada nasi kuning, tumpeng, dan juga ada ketan hitam. Saya pikir mau perbaiki hubungan Australia dan Indonesia di masa depan,” jelas Emily.

Emily merupakan warga Australia, sebelumnya ia lahir di Malaysia dan juga pernah tinggal di Singapura dan Filipina.

3. Profesor yang mencintai alat musik dan budaya Indonesia sejak muda

Kisah Unik Bule dari Monash University yang Tertarik Budaya Indonesia

Margaret Kartomi, profesor musik di Monash University mengaku mencintai kebudayaan Indonesia. Beberapa yang ia sebut seperti musik dari Sumatera, tarian budaya hingga silat. Margaret bahkan mengagumi Kepulauan Riau yang ia sebut sangat indah.

“Kami sudah sepuluh tahun keliling Kepulauan Riau. Cantik sekali, sampai Natuna. Mereka ada musik, tari yang asli dan lain sekali dari daerah lain,” pujinya.

Kecintaannya kepada Indonesia sudah Margaret rasakan sejak 50 tahun lalu. Suami Margaret bahkan berasal dari Banyumas, Jawa Timur.

“Waktu saya 19 tahun umurnya, saya dibawa orangtua saya ke Indonesia, keliling.  Banyak teman di mana-mana, di Jawa. Setelah itu saya kawin,” ungkap etnomusikolog yang mengkhususkan diri di Indonesia dan Asia Tenggara, dan otoritas dunia pada musik Sumatera ini.

Kecintaannya kepada Indonesia juga menurun kepada anaknya.

“Suami saya senang sekali keliling. Dia seorang insinyur sebetulnya, senang sekali keliling negaranya. Anak kami juga sejak 30 tahun lalu keliling meneliti teater Indonesia, macam-macam teater,” ujarnya.

4. Hubungan Monash University dengan Indonesia

Kisah Unik Bule dari Monash University yang Tertarik Budaya Indonesia

Sejak didirikan lebih dari 50 tahun yang lalu, Monash Arts telah membangun dan mempertahankan hubungan penelitian dan pengajaran yang kuat dengan Indonesia. Monash memiliki lebih dari 8.000 alumni Indonesia, dan dengan lebih dari 1.500 siswa saat ini. Bisa dikatakan, Monash memiliki kelompok pelajar Indonesia terbesar yang belajar di Australia.

Beberapa kerjasama Monash University dengan Indonesia seperti Australia Indonesia Centre (AIC), pusat ini bekerja untuk memperkuat jaringan akademik dan bisnis antara kedua negara.

Lalu ada Kantor Perwakilan Monash Indonesia yang didirikan tahun 2016 yang fokus pada pengembangan dan pendalaman kerjasama penelitian, pengayaan alumni, serta kemitraan dan hubungan industri dan pemerintah.

Ada juga Pusat Kebudayaan Indonesia Herb Feith yang mempertemukan para cendekiawan dan pemimpin pemikiran dari Monash untuk bekerja dengan industri Indonesia dan mitra pemerintah untuk mempromosikan pemahaman budaya dan memecahkan masalah sosial.

IDN Times dengan Kedutaan Besar Australia serta bersama sejumlah media dari Indonesia mengunjungi Monash University. Kami mendapatkan kesempatan untuk berbagi pengalaman tentang pengembangan Monash University dan kerjasamanya dengan Indonesia.