Menakar Potensi Kehidupan Manusia di Mars

Mark Watney, seorang astronot NASA harus bertahan hidup di Mars seorang diri. Sebuah kecelakaan penjelajahan membuat dia ‘terdampar’ di Mars sendirian dengan persediaan makanan yang terbatas.

Sambil berusaha mengontak kantor NASA di Bumi, dia berusaha ‘membuat’ makanan di Mars. Watney bercocok tanam hingga membuat ‘air’ di Mars.

Namun, kehidupan Mars tersebut merupakan kisah novel yang kemudian dituangkan menjadi film The Martian. Film yang diperankan oleh Matt Damon ini sempat meramaikan layar bioskop pada 2015 silam.

Saat itu, mungkin tak sedikit orang membayangkan kehidupan di Mars. Sayangnya, yang dikisahkan dalam film tak semudah kenyataan.

Bagaimana caranya hidup di Mars dan apakah manusia benar-benar bisa membangun kehidupan di planet lain selain bumi?

Dua pertanyaan besar tersebut masih menjadi misteri yang sedang berusaha dipecahkan oleh manusia, termasuk pula Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). Dua hari lalu, misi NASA bernama Insight baru saja mendarat di Planet Mars.

Berbeda dengan misi-misi sebelumnya, sebuah kapal tak berawak ini akan menjelajah inti Mars hingga gempa Mars. Nantinya, bukan hanya ada earthquake atau gempa bumi, tapi akan ada marsquake atau gempa mars.

Lebih jauh dari tujuan misi ini adalah untuk memahami evolusi Mars yang berbeda dengan Bumi hingga terbentuknya sebuah planet. Mars dulu dikenal dengan planet yang basah. Namun, planet ini berevolusi menjadi sebuah planet yang kering dan tak berpenghuni.

Dari pengumpulan fakta tersebut itulah, nantinya di masa depan diharapkan bisa ada misi manusia ke Mars. Dalam situs resmi NASA, sempat dituliskan bahwa para peneliti sedang melakukan terraforming.

               Dikutip dari : JurnalTeman.com            Menakar Potensi Kehidupan Manusia di Mars

Terraforming merupakan semua proses menciptakan lingkungan yang mirip Bumi atau layak huni di planet lain. Para ilmuwan mengusulkan terraforming untuk memungkinkan kolonisasi jangka panjang Mars.

Para ilmuwan ini memiliki analisis yakni dengan melepaskan karbon dioksida yang berada di permukaan Mars–seperti oksigen dalam permukaan Bumi–untuk mengentalkan atmosfer dan menjadi selimut yang menghangatkan planet.

Sayangnya, hal ini langsung dipatahkan oleh analisis NASA yang menemukan bahwa Mars tak menyimpan cukup banyak karbon dioksida yang bisa dimasukkan untuk menghangatkan atmosfer. Mengubah lingkungan Mars yang tidak ramah menjadi tempat yang dapat dijelajahi astronot tanpa dukungan kehidupan masih mustahil dengan teknologi yang ada saat ini.

Sebagai gambaran, atmosfer Mars mayoritas terdiri dari karbon dioksida. Komponen tersebut itu terlalu tipis dan dingin untuk mendukung air cair, materi terpenting untuk kehidupan. Di Mars, tekanan atmosfer kurang dari satu persen dari tekanan atmosfer Bumi. Air cair apa pun di permukaan Mars akan sangat cepat menguap atau membeku.

Peneliti University of Colorado Bruce Jakosky melihat tidak cukup CO2 yang tersisa di Mars untuk dimasukkan kembali ke atmosfer.

“Selain itu, sebagian besar gas CO2 tidak dapat diakses dan tidak dapat dimobilisasi dengan mudah. Akibatnya, terraforming Mars tidak mungkin menggunakan teknologi yang ada saat ini,” kata Jakosky dalam situs resmi NASA pada Juli lalu.

Tekanan atmosfir di Mars adalah sekitar 0,6 persen dari Bumi. Dengan Mars yang jauh dari Matahari, peneliti memperkirakan tekanan CO2 yang mirip dengan tekanan atmosfer total Bumi diperlukan untuk menaikkan suhu yang cukup untuk memungkinkan air cair yang stabil.

“Sumber yang paling mudah diakses adalah CO2 dalam es di kutub. Itu bisa diuapkan dengan menyebarkan debu di atasnya untuk menyerap lebih banyak radiasi matahari atau dengan menggunakan bahan peledak,” jelas Jakosky.

Meskipun permukaan Mars tidak ramah terhadap bentuk kehidupan yang dikenal saat ini, ada beberapa penemuan menarik dari misi-misi sebelumnya. Salah satunya adalah penampakan yang menyerupai dasar sungai kering dan endapan mineral yang hanya terbentuk dalam material air cair memberikan sebuah bukti.

                                Menakar Potensi Kehidupan Manusia di Mars

Di masa lalu, iklim Mars mendukung air cair di permukaan. Tetapi radiasi matahari dan angin matahari dapat menghilangkan uap air dan CO2 dari atmosfer Mars. Misi Mars Express MAVEN dan Misi Antariksa Eropa menunjukkan bahwa sebagian besar atmosfer kuno Mars yang berpotensi dihuni telah hilang ke angkasa, tersapu oleh angin matahari dan radiasi.

“Tentu saja, begitu ini terjadi, air dan CO2 itu hilang selamanya. Bahkan jika kerugian ini dicegah entah bagaimana, memungkinkan atmosfer untuk membangun perlahan-lahan oleh aktivitas geologi, itu akan memakan waktu sekitar 10 juta tahun hanya untuk menggandakan atmosfer Mars saat ini,” menurut tim ilmuwan terraforming dalam situs NASA.

Penelitian Mars di Indonesia

Sementara itu, di Indonesia sendiri belum ada penelitian spesifik yang mengarah ke Mars. Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin mengatakan saat ini belum ada yang spesifik tentang penelitian Mars, terutama soal pengiriman manusia ke Mars pada 2030.

“Saya belum tahu kepastiannya pada 2030 walau kajian tetap dilakukan NASA untuk misi jangka panjang manusia ke Mars yang cukup ekstrem dan lebih jauh dari Bulan,” ujarnya, Selasa (28/11) kepada CNNIndonesia.com.

Namun, Thomas mengungkapkan ada beberapa hal yang perlu disimak jika mau tinggal di Mars.

“Untuk bisa tinggal di Mars, dua hal pokok yang harus dipersiapkan dalam misi jangka panjang ke Mars dan tidak mungkin membawa perbekalan banyak,” tambahnya.

Pertama, perlunya wahana dan hunian yang bisa melindungi dari kondisi ekstrem, termasuk dari partikel energetik dari matahari. Kedua, mekanisme daur ulang oksigen dan air serta produksi makanan baik selama perjalanan maupun tinggal di Mars. Sebagai catatan, perjalanan ke Mars memakan waktu sekitar 6 bulan hingga 8 bulan.

Pada akhirnya, terbatasnya teknologi dan hasil penelitian sementara Mars saat ini masih belum menemukan titik cerah kehidupan di Mars. Namun, di masa mendatang ketika teknologi dan penelitian semakin canggih, mungkin penggalan film The Martian bisa menjadi kenyataan.