Yang Janggal dari Peristiwa KM Sinar Bangun Tenggelam

BERITA BENCANA

Kapal terakhir dari Tigaras tujuan Pelabuhan Simanindo akan berangkat pukul lima. Senin sore itu, 18 Juni, cuaca tampak mendung, dan dermaga ramai dirayapi orang-orang. Keluarga Maria Sidauruk salah satunya. Mereka sedang mengantar keluarga iparnya yang ingin pulang ke Pematangsiantar. Hari itu di Pulau Samosir memang ada acara keluarga bernama pesta tugu—tradisi sekeluarga menziarahi makam ompungnya…

Keluarga penumpang menangis saat menyaksikan proses pencarian penumpang KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, Simalungun, Sumatra Utara, Selasa (19/6/2018). ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi

Keluarga penumpang menangis saat menyaksikan proses pencarian penumpang KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, Simalungun, Sumatra Utara, Selasa (22/6/2018). ANTARA FOTO/Irsan Mulyadi

Karena sudah lama tak jumpa, Maria sempat meminta keluarga iparnya untuk tinggal lebih lama di Samosir. “Lagi pula besok masih libur,” kata Maria. “Tapi, mereka bilang mau pulang aja. Makanya kami kejar kapal itu kemarin.”

Kapal Motor (KM) Sinar Bangun yang akan ditumpangi saudaranya sudah tampak ramai saat mereka tiba, sekitar pukul empat sore. Beberapa orang mengantre untuk menaikkan motor mereka ke kapal, yang lainnya sudah duduk. Total keluarga Maria ada 12 orang: saudara ipar, istri dan anak-anaknya, serta beberapa kerabat dekat lain.

Suasana ramai dan kapal wisata yang penuh penumpang memang pemandangan wajar di dermaga-dermaga Danau Toba, terutama saat musim liburan. Para penumpang memang tak perlu antre beli karcis dulu di loket. Cuma perlu mendatangi petugas kapal yang biasanya berdiri dekat kapal, lalu bertanya apakah masih ada slot kosong?

Kalau dijawab ya, artinya silakan naik, dan membayar karcis nanti ketika kapal sudah jalan. Karcisnya juga tak benar-benar ada bentuk fisiknya. Sehingga ketiadaan manifes, apalagi keterangan asuransi penumpang, merupakan sesuatu yang lazim.

Bagi orang-orang yang biasa berwisata ke Danau Toba, tak ada hal yang aneh hari itu. Keluarga Nainggolan cuma perlu membayar karcis Rp8 ribu per orang.

Maria ingat melihat polisi yang mengawasi KM Sinar Bangun saat kerumunan penumpang naik ke kapal. “Yang naik memang ramai sekali. Lebih seratusan, mungkin dua ratusan,” kenang Maria. Ia ingat puluhan sepeda motor sudah diikat di lantai satu kapal dan penuh di pinggirannya.

Meski ia merasa ganjil dengan muatan kapal itu, Maria tak mengira bahwa KM Sinar Bangun akan bernasib nahas. Ia menunggu kapal itu berangkat, lalu bersama suami dan keluarga lain melanjutkan perjalanan pulang ke arah Tarutung.

Di atas kapal yang baru beberapa menit berangkat, Eka Handayani sempat membuat panggilan video dengan adik sepupunya di rumah di Tebingtinggi. Ia mengabarkan sedang berlayar dari Simanindo menuju Tigaras.

“Cuacanya mendung, Dek. Angin kencang. Ombaknya juga tinggi. Takut kami, doakan kakak, ya,” ujar Sri Wahyuni, sepupu Eka, menuturkan kepada saya. Ia mengulangi kata-kata Eka sebelum koneksi video call itu terputus.

Eka, pacarnya Irwan Syahputra, dan dua keponakan mereka, Ilham Lubis dan Tami Melani, pamit dari rumah untuk jalan-jalan ke Balige, Toba Samosir.

Wahyuni berkata bahwa keluarga sebetulnya tidak tahu mereka berempat akan naik kapal dari Simanindo ke Tigaras. “Mungkin emang sekalian jalan-jalan, jadi main ke Samosir,” tambah Wahyuni.

Panggilan yang putus itu disangka adik sepupu Eka disebabkan kuota internet yang kandas, kalau tidak karena sinyal. Masih tak ada firasat buruk.

Sekitar setengah jam setelah berlayar, angin semakin kencang mengempas KM Sinar Bangun. Kata Muhammd Fikri, salah satu penumpang di lantai tiga, kapal mulai oleng ke sisi kanan. Penumpang mulai panik. Banyak yang jatuh ke danau. Teriakan dan lolongan tolong mengisi udara di tengah danau terbesar se-Asia Tenggara itu.

Orang-orang menangis. Orang-orang menjerit.

Hanya dalam hitungan menit, lebih separuh lambung KM Sinar Bangun tenggelam. Dalam sebuah video yang telah kami konfirmasi kepada Kepala BNPB Sutopo Purwo Nugroho, kapal itu tampak jatuh miring ke sisi kanan. Puluhan orang sempat bertahan di atasnya. Puluhan lain berusaha keras berpegangan di pinggiran kapal, menggapai pada pegangan agar tak makin tenggelam. Sebagian lain mengapung di sekitar kapal.

Mereka terus berteriak. Mereka terus minta tolong. Mereka melambai-lambai ke arah daratan.

Dalam menit-menit berikutnya seluruh lambung kapal tenggelam. Membawa sejumlah orang yang terjebak di lantai dua dan satu.

Sekitar sejam kemudian, sebuah kapal feri—Kapal Motor Penumpang Sumut II—melintasi titik itu. Bangkai KM Sinar Bangun sudah tak tampak. Tinggal sejumlah orang—tampak lebih dari dua puluh orang—masih berusaha mengapung di atas air.

Dalam sebuah video amatir lain yang terkonfirmasi Sutopo, sejumlah orang di KMP Sumut II berusaha menyelamatkan korban Sinar Bangun dengan melempar ban. Namun, KMP Sumut II hanya bisa menyelamatkan tiga orang.

Dodi Max Silalahi, Kapten KMP Sumut II, memutuskan meninggalkan korban Sinar Bangun dengan alasan cuaca buruk. Kepada para wartawan yang berkumpul di Simanindo, ia berdalih hal itu dilakukan demi keselamatan penumpang kapalnya. Pada saat yang sama, Kapten Dodi berkata telah menghubungi KMP Sumut I untuk datang menyelamatkan sisa korban.

Ratusan orang lain hingga kini masih hilang. Termasuk 12 anggota keluarga Nainggolan dan empat orang keluarga Eka Handayani.

Hanya ada 19 orang yang berhasil diselamatkan KMP Sumut I dan KMP Sumut II. Salah satunya Fikri. Ia dan Rahman, kawannya dalam satu komunitas Vespa, berhasil selamat karena berpegangan pada helm. Sementara 10 kawan mereka yang juga naik KM Sinar Bangun termasuk di antara daftar korban hilang.

Setibanya di darat, di ujung petang Senin itu, Fikri dan Rahman bingung ingin menyampaikan kabar pada keluarga kawan-kawan mereka, termasuk keluarga Edi Wibisono. Fikri menghubungi tetangga Edi untuk menyampaikan kabar itu. Tapi, kata Aida Damanik, tante Edi, isi kabar itu masih sepotong-sepotong. Mereka masih tak tahu bahwa Edi termasuk korban hilang. Barulah pada malam hari keluarga makin cemas. Akhirnya, mereka memutuskan berangkat dari rumah mereka di Indrapura menuju Tigaras.

Hingga Kamis kemarin, 21 Juni, Edi dan sembilan kawan lain masih belum ditemukan.

Aida, yang bersama orangtua Edi menginap di Tigaras, hanya berharap jenazah keponakannya dapat ditemukan untuk bisa dimakamkan keluarga.

“Kalau berharap anak kami itu masih hidup, kami udah pasrah. Yang penting, tolonglah jasadnya bisa pulang sama kami. Biar bisa kami makamkan.”

Aida pulang dengan kegetiran dan tangan kosong. Ia kembali ke Indrapura.

BERITA BENCANA
Yang Janggal dari Peristiwa KM Sinar Bangun Tenggelam

Keluarga penumpang menangis saat menyaksikan proses pencarian penumpang KM Sinar Bangun yang tenggelam di Danau Toba, Simalungun, Sumatra Utara, Kapal terakhir dari Tigaras tujuan Pelabuhan Simanindo akan berangkat pukul lima. Senin sore itu, 18 Juni, cuaca tampak mendung, dan dermaga ramai dirayapi orang-orang. Keluarga Maria Sidauruk salah satunya. Mereka sedang …

Misteri
Ciri – ciri rumah yang berhantu……

Pada zaman now ini, mungkin banyak yang sudah tidak percaya sosok yang namanya hantu. Akan tetapi, sebenarnya hantu itu ada di sekitar kita. Ada yang baik dan juga ada yang buruk. Jadi tidak perlu ditakutkan. Nah, di setiap tempat pasti ada hantunya…Tidak percaya? Akan kami bahas sedikit soal ciri – …

Misteri
Mengejutkan! Kuil Berusia 3000 Tahun Ditemukan Setelah Penggalian Selama 4 Tahun!

Reruntuhan kuno mungkin terlihat tidak berguna bagi kita, namun para ahli dapat mempelajari banyak hal darinya. Bukankah menarik bahwa sebagian besar dari apa yang kita ketahui tentang masa lalu adalah hasil dari mempelajari reruntuhan? Baru-baru ini, para arkeolog menemukan sebuah kuil di Mesir yang berumur lebih dari 3.000 tahun dan …