Jurnal Harian

Ibu ini Putus Asa, Bahkan Hampir Bunuh Diri, Berkat Keyakinan dan Permintaan Putrinya Membuatnya Menemukan Jalan Sebagai Penjual Ban Mian, yang Mengubah Hidupnya

Sendirian, tanpa uang sepeser pun dan dengan seorang anak yang harus diurus, Vivian Leong pernah berpikir untuk bunuh diri.

Tapi permohonan putus asa dari putrinya mengembalikan akal sehatnya dan itulah yang menuntunnya membuka kios Ban Mian-nya sendiri.

Vivian Leong dan putrinya, Ivory (Foto: Lianne Chia)

Dia bergerak secara cepat dan dengan tenang di sekitar kios mungilnya. Menguleni adonan berwarna kuning, menaburkan tepung sebelum memasukkan adonan ke dalam mesin pembuat mie.

Sekali, dua kali, sampai ada segenggam mie buatan tangan di meja.

Inilah kesibukan Vivian Leong, yang bekerja keras di kios ban mian-nya yang berada di sebuah kafe di Holland Close.

Ia terus mengawasi mie buatan tangan itu saat direbus di air mendidih, menunggu sampai mie matang dengan tekstur yang sesuai sebelum memindahkannya ke mangkuk dan menambahkan sedikit saus, yang terbuat dari resep tradisional Hakka dari ibunya.

Sejumlah jamur rebus, daging cincang, sayur yang telah direbus, dan telur rebus – jika diminta – menjadi satu, dan satu lagi pelanggan yang sedang lapar terlayani.

Para blogger kuliner datang dan pergi dengan puas. Ulasan makanan dan foto dilaminasi yang memperlihatkan Ibu Leong berfoto bersama para host acara variety show berjejer rapi di depan kiosnya.

“Setiap mangkuk ban mian buatan tangan ini dibuat dengan penuh kasih sayang,” kata Ibu Leong sambil tersenyum, dan para pelanggan bisa mengetahuinya melalui rasa di lidah mereka.

Ia kini adalah seseorang berbeda dari seseorang yang ia katakan kalau dulu ia terlantar, tertekan dan di ambang keinginan bunuh diri.

Dan saat itulah permohonan dari putrinya yang membawanya kembali pada akal sehat.

Semangkuk Ban Mian gaya Hakka Ibu Leong (Foto: Diane Leow)

Sebuah Permohonan Putus Asa

Ibu Leong masih mengingat hari ketika seluruh dunia terbalik. Saat itu 1 April 2012, dan ia tengah memasak kari ayam ketika telepon berbunyi.

Telepon itu dari suaminya, yang menelepon dari Shanghai tempat ia tinggal, meminta untuk bercerai darinya.

“Saya benar-benar shock, dan pikiran saya kosong,” katanya mengenang.

“Saya menanyakan alasannya, dan ia bilang kepribadian kami tidak sesuai satu sama lain.”

“Saya merasa sangat tidak mengerti dan teraniaya,” tambahnya.

“Selama bertahun-tahun, saya telah berusaha sebaik mungkin untuk menjadi istri yang baik untuknya, merawat dirinya, merawat putri kami dan mencintainya sebaik mungkin.

“Saya sangat mencintainya, dan saya merasa bahwa beberapa tahun terakhir ini hidup saya ternyata sia-sia belaka.”

Belakangan Ibu Leong mengetahui bahwa suaminya telah menemukan wanita lain dan ini tidak ingin berurusan lagi dengan Ibu Leong dan putrinya Ivory, yang saat itu berusia 7 tahun.

Jauh dari keluarganya yang berada di Malaysia, Ibu Leong tahu dirinya kini sendirian dan tidak punya uang sepeserpun, dengan seorang anak perempuan yang harus diurus.

“Saya benar-benar kehilangan semua harapan, dan merasa hidup saya tidak ada artinya lagi,” katanya.

Tiga minggu kemudian, dia berdiri di atas kursi di depan sebuah jendela flatnya, melihat tanah di bawahnya.

Dia ingat menangis kepada putrinya, yang sedang berlutut memintanya untuk tidak melompat. Dan dia juga mengingat kata-kata yang dikatakan putrinya yang akhirnya membuat ia mengubah hidupnya.

“Mami, tolong jangan melompat. Jika mami melompat, saya akan pergi bersamamu,” kenangnya kepada Ivory.

“Ketika saya mendengarnya, hati saya sangat sakit, dan saya berlutut, memeluknya dan menangis.”

“Mami, jangan khawatir,” kata Ivory saat memeluk ibunya.

“Ban Mian yang mami buat itu sangat enak. Jika mami membuka kios, banyak orang yang akan datang dan makan.”

Memulai Jalan Baru

Gagasan itu tampak tidak masuk akal bagi Ibu Leong. Bagaimana mungkin dia, seorang ibu tunggal tanpa uang, membuka warung makan sendiri?

“Bagi saya, itu tidak mungkin,” katanya.

 

“Saya tidak punya tabungan dan belum pernah bekerja di sini (di Singapura) sebelumnya. Keterampilan yang saya miliki adalah memasak untuk teman dan keluarga saya.”

Dan memang, ini adalah perjalanan panjang dan sulit bagi Ibu Leong. Dia mulai dari bawah, mencuci piring di kedai kopi dan memulai jalannya langkah demi langkah.

Mulai dari memotong cabe dan sayur-sayuran di kios makanan jadi, lalu meningkat dengan menulis tagihan, menerima pesanan pelanggan dan merekomendasikan hidangan.

Akhirnya, ketika ia sudah siap, ia ‘dipromosikan’ untuk memegang pembukuan.

Membuat mie di kiosnya. (Foto: Lianne Chia)

“Saya sangat berbesar hati,” katanya.

“Saya berhasil menyelesaikan perjalanan saya, dan mendapatkan pengalaman. Inilah, bagi saya, dasar dari kios Ban Mian ini.”

Dia juga berterima kasih atas kebaikan pemilik cafe yang dia temui.

“Saya rasa dia melihat betapa sulitnya saya bekerja di kios makanan jadi itu, dan dia meminta saya untuk datang ke kafenya dan mengambil alih sebuah kios kosong di sana,” katanya.

“Saya tidak perlu membayar deposit. Sebagai gantinya, saya memberinya $ 50 per hari dari penghasilan saya.”

Pada akhir tahun 2015, dua setengah tahun setelah dia memikirkan bunuh diri, Ibu Leong membuka usaha kios Ban Mian secara resmi.

Damai di Hatinya

Awalnya ia mengambil hanya setengah unit kios, hingga usahanya makin lama makin kuat berkat dedikasi dan kerja Ibu Leong yang tidak berhenti.

Saat ini, ia telah berkembang dengan mengambil alih seluruh kios, dan sekarang juga menawarkan Yong Tau Foo dan juga makanan Thailand.

Ia sangat senang, katanya, ketika kios Ban Miannya dibuka. Tapi pekerjaan hariannya jauh dari kata nyaman.

“Setiap pagi, saya bangun jam 6.30 pagi untuk menyiapkan anak perempuan saya ke sekolah. Lalu saya harus membuka kios saya, membuat mie, menyiapkan cabe, memotong ramuannya … semua sebelum kios saya buka jam 10 pagi. ”

Waktu istirahatnya, yang dilakukan pada sore hari ketika kerumunan pelanggan makan siang telah selesai, dihabiskan untuk merawat putrinya dan membantunya mengerjakan PR, sebelum kembali ke kiosnya untuk melayani pelanggan makan malam.

Menyajikan semangkok Ban Mian panas. (Foto: Lianne Chia)

“Terkadang, saya merasa tubuh saya benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk melanjutkannya, terutama saat saya sakit,” katanya.

“Ketika saya benar-benar tidak punya pilihan, saya akan menutup kios saya selama satu atau dua hari, segera minum obat, menemui dokter dan berharap bisa sembuh.”

Ibu Leong mengakui bahwa kadang-kadang, dia juga mempertanyakan pilihannya.

“Larut malam, saya kadang bertanya pada diri sendiri.

Mengapa saya ingin melanjutkan usaha ini, terutama bila saya hanya bisa menutupi pengeluaran saya? Bagaimana kalau putri saya mau kuliah, atau kalau mau beli rumah? ”
“Tapi Tuhan mengatakan bahwa perjalanan saya belum berakhir. Dan aku merasakankedamaian di hati saya.”

Beberapa bulan terakhir ini juga sangat menegangkan bagi Ivory, yang memasuki sekolah menengah pertamanya tahun depan. Dengan hasil PSLE-nya, yang memenuhi syarat untuk mengikuti gelombang Normal (secara Akademik), ia berharap bisa masuk ke Sekolah Menengah St. Margaret.

Jelas bahwa Ibu Leong memiliki harapan tinggi untuk putrinya. Dan akhirnya, saat tangan dan punggungnya terasa sakit, Hal itulah yang membuatnya terus berjalan.

“Putri saya mengatakan, tidak ada mie, tidak ada kehidupan. Tidak ada mie, tidak ada rumah, dan tidak ada cinta,” katanya sambil tertawa kecil.

“Dan itulah, bagi saya, sebuah keajaiban: perkataan Tuhan, dan dorongan putri saya. Tuhan menuntun saya dan menunjukkan jalannya kepada saya. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan.”