Setiap Hari Nyonya ini Memberi Semangkuk Mie untuk Seorang Gadis Cilik, Sampai Suatu Hari Dia Melihat Tanda Lahir di Lengannya yang Membuatnya Meneteskan Air Mata Terkejut Bercampur Haru

Jurnal Harian

Ada seorang wanita tua di desa Liu Xi bernama Li, usia 65 tahun, tidak punya anak.

Meski hidup susah, tapi masih bisa menikmati hari-harinya dengan cukup nyaman. Sejak kematian suaminya, nenek Li menjadi semakin kesepian.

Suatu malam, nenek Li ke bukit seorang diri mengunjungi makam suaminya, di depan makam suaminya, dia meratap kenapa suaminya begitu tega meninggalkannya sendiri.

Nenek Li menumpahkan isi hatinya di depan makam suaminya. Tiba-tiba, sayup-sayup terdengar seberkas suara dari makam, “Tidak lama lagi ada seseorang yang akan segera menemanimu!”

“Suamiku, kamukah yang berbicara denganku ?” tanya nenek Li terkejut.

Tapi lama tidak terdengar sahutan, nenek Li pun menganggap itu hanya halusinasinya.

Malam itu, nenek Li berjalan sendirian di kegelapan, dan ketika memasuki gerbang desa, sayup-sayup dia mendengar suara tangisan bayi.

Tangisan itu terdengar dari arah depan nenek Li, dan semakin lama semakin jelas terdengar tangisan yang menyayat hati itu.

Tiba-tiba nenek Li melihat sesosok bayi perempuan tergeletak di atas tanah. Nenek Li melihat ke sekeliling dan berteriak, “Ada orangkah?”

Lama tak terdengar sahutan, nenek Li pun berpikir itu adalah bayi yang sengaja ditinggalkan.

ILUSTRASI. (Internet)

Begitu nenek Li mengangkat bayi itu, tiba-tiba teringat ucapan suaminya di depan makam, “Tidak lama lagi ada seseorang yang akan segera menemanimu.”

Nenek Li pun merasa bayi itu adalah hadiah dari suaminya, dan dalam hatinya ia merasa bersyukur sambil memandangi bayi dalam gendongannya.

Sejak saat itu, nenek Li mulai merawat dan membesarkan bayi yang diberi nama Lily. Setiap hari nenek Li minta tolong orang-orang memberi asi pada si bayi, dan tidak peduli meski dipandang dengan tatapan aneh.

Tengah malam saat bayi menangis karena Lapar, nenek Li menyuapinya dengan bubur hangat.

Lambat laun anak yang dirawat nenek Li pun mulai tumbuh besar, sepanjang hari selalu memanggil, “Nenek, nenek….”

Nenek Li yang mendengarnya pun sangat bahagia, seisi rumah penuh dengan gelak tawa sepanjang hari. Nenek Li selalu membawa cucunya kemana pun ia pergi.

Dalam sekejap mata, lima tahun pun berlalu, dengan susah payah, akhirnya nenek Li bisa membesarkan Lily.

Dulu saat kerja di pedesaan, nenek Li masih bisa menghidupi LiLy , namun, sekarang LiLy sudah harus sekolah bersama dengan anak-anak sebayanya.

Bagi orang tua usia 70-an seperti nenek Li, biaya sekolah adalah angka yang tak terjangkau olehnya.

Demi menyekolahkan LiLy, nenek Li meninggalkan desa, ia membawa serta Lily pergi ke kota.

Sesampainya di kota, nenek Li memulung dari jalan ke jalan, mengumpulkan uang untuk biaya sekolah LiLy.

Untungnya Lily, cucu yang cukup dewasa, bisa memahami kondisi neneknya.

Ia membantu nenek Li memulung dan menenteng kantong berisi barang-barang bekas hasil memulung …

Setengah tahun kemudian, nenek Li telah memiliki sedikit simpanan dari hasil memulung dan hidup hematnya.

Meski hidup susah, tapi ia merasa puas masih bisa makan seadanya, tidak sampai terlantar!

Suatu hari, nenek Li dan Lily cucu perempuannya sibuk memulung sampai malam.

ILUSTRASI. (Internet)

Saat melewati sebuah kedai mie, nenek Li berkata pada cucunya, “Lily, hari ini adalah ulang tahun pertemuan nenek sama kamu, nenek belikan semangkuk mie daging untukmu ya!”

“Tapi nek, Lily lebih suka makan roti dan acar!” kata Lily yang tidak mau menghamburkan uang yang didapat dengan susah payah dari hasil keringat neneknya.

“Tidak apa-apa! Nenek tidak pernah merayakan hari ulang tahunmu, jadi hari ini anggap saja sebagai hadiah ulang tahunmu dari nenek!” kata si nenek dengan suara bergetar sambil melangkah masuk ke kedai mie.

“Nyonya! Satu mangkuk besar mie daging, kuahnya yang banyak ya!” Kata si nenek pada si nyonya.

 

“Baik segera datang, silakan duduk!” Kata si nyonya dengan penuh semangat.

Beberapa menit kemudian, sang nyonya mengantarkan semangkuk besar mie daging yang masih panas mengepul di depan mereka.

“Nenek makan dulu!” kata Lily penuh perhatian.

“Nenek tidak suka mie, kamu saja yang makan, nanti cukup sisakan kuahnya saja untuk nenek!”

Nyonya pemilik kedai yang melihat pemandangan itu pun terharu. Lalu ia kembali ke dapur mengambil mangkuk, dan berkata, “Kuah di mangkuk itu terlalu banyak, sini tuang ke dalam mangkuk ini saja, supaya cepat dingin!”

“Terima kasih!” Kata nenek Li.

Seusai makan, nenek Li mengambil beberapa lembar uang kertas kumal dari kantongnya dan ketika hendak diberikan kepada si nyonya, sang nyonnya berkata, “Hari ini, kalian adalah tamu ke 88 yang paling beruntung di kedai ini, setiap tamu ke-88 yang makan di kedai ini akan menikmati satu mangkuk mie gratis !”

Lily yang mendengar itu pun dengan gembira mengucapkan, “Terima kasih, tante!”

Sejak saat itu, selalu terlihat seorang gadis cilik di depan kedai mie itu, ia menghitung tamu-tamu yang berkunjung ke kedai mie, hanya untuk mendapatkan semangkuk mie gratis.

Si nyonya pemilik kedai mie terkenal sangat suka membantu orang. Suatu hari ketika kedai mie-nya sedang sepi, dimana untuk mendapatkan 87 tamu.

Ia pun menghubungi teman-temannya untuk makan mie di kedainya, sehingga dengan begitu, gadis cilik Lily bisa menikmati semangkuk mie gratis setiap hari.

Dan lambat laun nyonya pemilik kedai mie pun menjadi akrab dengan nenek Li.

Suatu hari, nyonya pemilik kedai mie tanpa sengaja melihat tanda lahir di lengan gadis cilik itu, kemudian ia bertanya pada nenek Li, “Berapa umur cucumu sekarang?”

“Enam tahun!” kata nenek Li, dan ketika ia memandang si nyonya, nenek Li melihat si nyonya meneteskan air mata.

Lalu dengan perasaan bergejolak dia bertanya lagi, “Dimana orang tua anak itu?”

Nenek Li tampaknya menyadari maksud si nyonya, mengingat si nyonya biasanya juga sangat suka membantu orang yang kesusahan, dan juga baik pada mereka.

Lalu nenek Li pun menceritakan asal usul Lily, cucu pungutnya.

Perasaan si nyonya semakin bergejolak tak menentu, karena gadis cilik bernama Lily itu adalah putri kandungnya!

Ternyata saat si nyonya baru menikah, keluarga suaminya miskin, bahkan untuk makan tiga kali sehari saja bermasalah.

Saat melahirkan anak pertama adalah seorang anak perempuan, ibu mertuanya pun semakin tidak suka dengannya, karena melahirkan anak perempuan.

Ibu mertuanya lebih mengutamakan anak laki-laki sebagai penerus keturunan.

Kemudian dia melahirkan anak kedua, tapi lagi-lagi anak perempuan, dan punya tanda lahir di lengannya.

Keluarga yang sudah miskin semakin terbebani dengan lahirnya anak perempuan kedua.

Akhirnya, karena emosi, ibu mertuanya kemudian membawa pergi anak perempuan keduanya yang baru berusia beberapa hari itu.

Karena saya takut bayi itu dibuang di pinggir jalan, dan mati kelaparan, diam-diam saya mengikuti ibu mertua dari belakang.

Saat dia meninggalkan bayi itu di tempat terpencil, kemudian saya mengambil bayi itu dan membawanya ke desa, dan saya baru pergi setelah melihat ada orang yang mengambil anak itu, cerita si nyonya sambil mengenang masa lalunya.

“Ibu! Hu…hu….hu …” kata Lily memanggil ibu pada si nyonya sambil menangis seketika dan melihat tanda lahir di lengannya setelah mendengar cerita si nyonya.

“Ibu minta maaf nak telah meninggalkanmu!” Kata si nyonya dengan air mata berlinang sambil memeluk Lily, putri kandungnya.

Ibu dan anak ini pun menangis bersama dalam sebuah pertemuan yang tak disangka.

Kemudian, si nyonya pemilik kedai mie menyekolahkan putrinya, sekalian juga mengajak nenek Li tinggal bersama dengannya.

Sejak itu, si nyonya pun menganggap nenek Li sebagai ibunya, yang akan dirawat sampai akhir hayat.

Nenek Li yang mendapatkan perawatan dan perhatian dari nyonya yang baik hati itu menikmati sisa hidupnya dengan bahagia sampai ia berpulang kepada-Nya.

Nyonya pemilik kedai mie memakamkan nenek Li di samping batu nisan suaminya.

Jurnal Harian
Mantap Jiwa! 8 Tahun Lamanya, “Bule Perancis” Ini Mengabdikan Hidupnya Untuk Bantu Masyarakat Sumba: Saya Ingin Mati Di Sini!

Namanya Andre Graff, usianya kini 56 tahun. Delapan tahun lalu ia datang sebagai turis ke Sumba. Mata hatinya terbuka melihat tanah yang gersang dan kesederhanaan kehidupan masyarakat di Nusa Tenggara Timur. Ia mulai mencari cara untuk mencari sumber air dari tanah dan menggalinya. Perjuangannya pun cukup sulit. Ia datang pertama …

Jurnal Harian
Jangan Minum Air Saat Duri Ikan Tersangkut di Tenggorokan, Sebaiknya Segera Lakukan Seperti Ini ! Banyak Kasus yang Fatal Karenanya

Tahukah Anda cara mengatasi duri ikan yang tersangkut di tenggorokan? Apa yang sebaiknya dilakukan jika kebetulan duri ikan tersangkut di tenggorokan ? Pertama, jangan lagi menelan apa pun, jangan minum air, tarik keluar jika memang masih bisa dikeluarkan, kalau tidak sebaiknya segera ke dokter! Coba minta bantuan orang lain untuk …

Berita Hiburan
Tempat-tempat Liburan Terbaik di Uluwatu, Bikin Jatuh Hati

Siapa sih yang nggak suka liburan ke Bali? Semua orang pasti bahagia kala menghabiskan waktu liburan di pulau yang dijuluki sebagai surga dunia ini. Apalagi kalau tujuan wisatanya di kawasan Uluwatu, hmm…dijamin langsung jatuh cinta pada pandangan pertama ke salah satu tempat wisata terbaik di Bali ini. Sudah dapat tempat …