Luar Biasa! Suku di Indonesia yang Masih Bertahan dalam Kehidupan Perburuan dan Menangkap Ikan

Gambar-gambar yang menakjubkan ini memberi wawasan tentang kehidupan sehari-hari masyarakat adat bertato setengah telanjang dari suku Mentawai di Indonesia yang masih bertahan dalam perburuan dan penangkapan ikan.

Fotografer Danan Wahyu Sumirat melakukan perjalanan jauh ke pulau Mentawai, tanah air suku di Sumatera Barat.

Dia mendokumentasikan gaya hidup 64.000 jiwa yang telah sangat berhasil tinggal jauh dari hiruk-pikuk masyarakat modern.

Yuli Seperi/ Caters News

Orang-orang semi-nomaden masih berburu ikan dan hewan dengan panah beracun untuk makanan dan tinggal di rumah bambu yang disebut Umas yang mereka hiasi dengan tengkorak binatang hasil buruan mereka.

Suku ini percaya bahwa setiap benda hidup memiliki jiwa dan mereka sangat menghormati alam, terutama sungai. Bagi mereka, merusak atau mencemari sumber air adalah dosa.

Yuli Seperi/ Caters News

Hari-hari mereka dihabiskan dengan berburu dan menangkap ikan dimana kedua pekerjaan itu dilakukan berdasarkan jenis kelamin.

Berburu dilakukan oleh kaum pria, sedangkan menangkap ikan didominasi oleh kaum wanita.

“Saya selalu ingin mendokumentasikan suku ini. Mereka adalah orang yang sangat mempesona. Saya selalu bertanya-tanya bagaimana mereka hidup bahagia dan damai, jauh dari kota yang sibuk. Menyaksikan kehidupan masyarakat Mentawai secara lebih dekat telah membuat saya sadar bahwa hidup sebenarnya sangat sederhana jika kita jatuh cinta dengan alam,” kata Danan.

Kehidupan sosial Mentawai berkisar pada klan mereka, dan di pusatnya adalah rumah panjang komunal. Klan bervariasi antara 30 sampai 80 anggota dan setiap orang memiliki pekerjaan yang harus dilakukan.

Yuli Seperi/ Caters News

Danan mengatakan: “Saya menyadari bahwa masyarakat Mentawai sangat terorganisir. Pekerjaan mereka dibagi berdasarkan jenis kelamin. Ada beberapa pekerjaan yang hanya dilakukan oleh pria, salah satunya adalah berburu. Sejak usia lima tahun, anak laki-laki diberi batang bambu runcing untuk menembak buruan. Setelah mencapai usia 10 tahun, mereka dikenalkan dengan panah beracun untuk berburu di hutan.”

Suku tersebut memiliki kebiasaan mengadakan pesta untuk semua orang sebelum berburu pertama oleh seorang anak laki-laki guna menghindari pertanda buruk.

Para wanita menggunakan Panu – penangkap ikan yang dibuat dari dua potongan kayu sepanjang tiga meter, kemudian bagian tengahnya dihubungkan dengan semacam jaring. Penangkapan ikan ini dikenal dengan sebutan Manino.

Karena orang-orang tidak terbiasa dengan teknik tenun, mereka masih memakai gonggong dan daun untuk menutupi alat kelamin sementara tubuh bagian atas tetap telanjang.

Yuli Seperi/ Caters News

“Apakah pria atau wanita, mereka tetap telanjang dada. Wanita memakai rok yang terbuat dari daun sementara pria menutupi kesopanan mereka dengan kulit kayu yang rata. Mereka memilih cabang dan daun sesuai ukuran orang itu dan tanpa merusak bagian ujungnya, mereka memangkasnya dengan parang. Setelah mendapatkan kulit kayu, kulit bagian luar dan dalam dari kulit kayu dipisahkan dan dengan lembut dililitkan untuk membuat Kabit,” kata Danan.

Setelah seharian berburu dan menangkap ikan serta meberikan prestasi untuk klan, orang-orang Mentawai menikmati rekreasi di malam hari.

Danan mengatakan apakah itu pria, wanita atau anak-anak, mereka semua suka menari dan menggambarkan cinta mereka terhadap alam dan hewan dalam gerakan mereka berupa bentuk tarian yang disebut Laggai Turuk.

Yuli Seperi/ Caters News

Mereka akan mengenakan hiasan kepala warna-warni, mutiara dan bulu, dan daun yang terselip di bagian belakang tubuh mereka, seperti tubuh unggas.

Menurut Danan, alam tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Mentawai. Selain sumber kehidupan, alam memberi mereka inspirasi seni. Tato yang menghiasi kulit mereka terdapat pola tanaman atau hewan. Sambil menari mereka meniru tingkah laku binatang.

“Ini lebih seperti ritual meditasi untuk orang-orang ini. Mereka kehilangan kesadaran saat sedang kesurupan saat mereka berdansa,” katanya.

Yuli Seperi/ Caters News

Pertunjukan Turuk semacam ini bukan bagian dari proses pengobatan tapi kami diperkenalkan dengan nenek moyang mereka sehingga kami terhindar dari penyakit dan bencana.

Satu-satunya spesialis di masyarakat adalah dukun yang bertanggung jawab untuk berkomunikasi dengan roh dan jiwa – jika terjadi kemalangan atau penyakit, dia dipanggil untuk memulihkan keselarasan di dalam kelompok.