Inspirasi

Melihat Orangtuanya Selesai Menyantap Makanan, Anak laki-laki Kecil Itu Segera Mencuci Mangkuk dan Mengatakan Sesuatu yang Membuat Seluruh Rumah ‘Berdiri’

Baru-baru ini, saat mengeposkan serangkaian foto anak laki-lakinya yang berusia 2 tahun 8 bulan, yang sedang mencuci mangkuk di jaringan sosial, To Thi Anh Phuong, seorang ibu muda yang tinggal di Viet Tri, Phu Tho, Vietnam, mendapat pujian dari warganet sebagai ibu yang sangat pandai mendidik anak.

Menurut Phuong, dia sedang hamil anak ketiganya. Hari itu, keluarganya baru saja selesai makan, namun karena saat itu juga ada tamu, mereka tidak langsung meninggalkan meja untuk mencuci mangkuk serta sumpit, dan justru segera menemani serta mengobrol dengan tamu mereka.

Saat itulah Teo, putranya keduanya, yang baru berumur 2 tahun 8 bulan, mulai mengumpulkan peralatan makan yang kotor di atas meja, sambil bergumam: “Selesai makan harus cuci piring, biarkan anak-anak dengan ayahnya….” Sontak membuat semua yang mendengarnya tertawa.

Ibu muda itu mengatakan bahwa itu adalah kata-kata yang sering dia ucapkan setelah selesai acara makan, jadi hari ini saat ibunya tidak mencuci piring, anaknya telah meniru ibunya untuk mengatakan hal yang sama.

Phuong bergegas untuk bangun dan mencuci piring, mangkuk serta sumpit tersebut, namun Teo mengatakan: “Saya sudah besar, kalau ibu mencuci dengan perut berisi bayi sebesar itu, ibu akan cepat lelah, biar aku sendiri saja yang mencuci.”

Mendengarnya Phuong sangat tersentuh sampai ingin menangis, tapi ibu dan anak itu tetap mencuci semuanya bersama, sampai selesai.

Setelah berbagi tentang anak yang imut itu di jaringan sosial, hal itu langsung menjadi viral.

Phuong menceritakan, Teo dalam kehidupan nyata adalah anak yang sangat baik, dia mencintai orangtuanya dan juga sangat rapi.

Sejak dia berusia 2 tahun, dia sudah belajar untuk menyapu rumah, menggantungkan pakaian, menyimpan barang-barang , membersihkan, memetik sayuran, mencuci sayuran,… untuk membantu ibunya.

Awalnya, saya pikir dia hanya akan aktif dan melakukannya 1 atau 2 kali saja. Tapi ternyata dia melakukan semua itu sepanjang waktu.

Di rumah, saya sangat terbantu oleh anak saya yang masih kecil ini, dalam keadaan mengandung anak ke-3, semua yang dia lakukan terasa sangat meringankan pekerjaan rumah tangga saya.

Banyak keluarga takut membiarkan anak-anak mereka melakukan pekerjaan rumah tangga dengan alasan takut membuat anak kecil mereka “kelelahan, atau tidak punya waktu bermain”.

Tapi bagi Phuong, sudut pandang ibu muda itu berbeda: “Semakin banyak anak memepelajari banyak hal sejak usia muda, semakin cepat mereka akan mandiri dan justru mereka akan lebih patuh, lebih baik, dan lebih mencintai keluarganya.

“Saya tidak pernah melarang apa pun jika dia suka, dia bisa melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh balita-balita lain pada umumnya, namun faktanya memang, dia lebih suka mengerjakan pekerjaan rumah tangga.”

“Sambil mengalami semua ini, saya selalu mengingatkan diri untuk melakukan apa yang boleh saya lakukan dan tidak boleh dilakukan, membedakan antara benar dan salah serta manfaat atau efek negatif dari apa yang saya lakukan.

“Begitu juga, saya mengajarkan hal yang sama kepada Teo. Karena itu, Teo tidak malu dan takut untuk memulai suatu hal sendiri lebih awal. ”

Ibu muda yang lahir pada tahun 1996 ini memiliki pandangan terdidik yang juga sesuai secara ilmiah.

Cara untuk mendorong anak-anak supaya menjadi mandiri yang dilakukan Phuong juga sangat ilmiah. Alih-alih memaksa, dia serta suaminya, sering menjadi cermin dan contoh teladan bagi anak-anaknya.

Mengatakan bahwa di rumah, dia dan suaminya berdua bergantian melakukan pekerjaan rumah tangga di keluarga, selalu menjaga kerapian di depan anak-anak mereka.

Lalu secara bertahap mulai mengajarkan mereka untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, dan juga untuk rapi seperti orangtuanya.

Dengan suami istri yang bergantian mengerjakan pekerjaan rumah tangga, anak-anak tidak akan berkonsep bahwa harus si ini atau si itu yang melakukan pekerjaan ini, karena itulah Teo dan kakak perempuannya juga sering bergantian mengerjakan pekerjaan rumah.

Orang-orang mengatakan bahwa seharusnya anak-anak itu hanya bermain, namun saya berpikiran berbeda, dan bukan mengeksploitasi anak, saya hanya ingin anak-anak saya bisa mandiri dengan segera.

Bermain hanyalah jiwanya dan anak-anak bisa memilih permainan apa pun yang mereka suka, dan anak-anak saya bisa dikatakan akan memilih dan sangat suka untuk bermain membersihkan dan merapikan rumah, serta bermain melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga.

Setiap hari, dia harus membantu dalam mengurus bisnis keluarga sekaligus mengurus rumah tangga, tapi Phuong tidak pernah lelah karena anak taat yang imut ini adalah motivasi hebat baginya untuk membantu mengatasi semua kesulitan dalam hidup