Inspirasi

Wanita Berhenti di Suatu Desa di Afrika, Saat Dia Melihat Apa yang Sedang Dilakukan Pria dengan Ban Bekas di Sana “Sungguh Menakjubkan”

Danielle telah melakukan perjalanan ke banyak tempat di seluruh dunia, namun saat berada di Benua Afrika, di Kamp Maasai Simba dekat ekosistem Amboseli di Kenya, dia menemukan sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya, yang menarik perhatiannya.

“Sungguh menakjubkan apa yang bisa diciptakan dengan alat sederhana dan imajinasi yang besar.”

Sementara Danielle sedang dalam perjalanan Safari ke Kenya dan Tanzania, dia berhenti di Desa Maasasi setempat dimana dia menemukan seorang pria sedang membuat sandal keren dan tahan lama dari ban sepeda motor TKC80 bekas, bahan alas kaki di Ethiopia.

Prosesnya terbilang sederhana. Pertama, ban bekas dikumpulkan dan disortir.

Kemudian masing-masing dan setiap ban itu dipotong dengan tangan (dengan pisau yang sangat tajam) berbentuk telapak kaki atau – dalam kasus Danielle, kakinya sendiri – memastikan agar potongannya pas sempurna, tahan lama, dan sangat nyaman.

Tali dari potongan ban diukur dan dipaku ke sisi solnya untuk mengamankan kaki pada tempatnya.

Sandal Danielle tidak hanya nyaman dan terjangkau, dia juga memiliki “waktu yang luar biasa” untuk mendapatkan produk custom alas kaki unik yang dibuat khusus untuk kakinya.

“Sepatu saya pas dengan sempurna dan karena bahan dasarnya yang kuat, mungkin sepatu ini akan bertahan sangat lama.”

Pembuat sepatu bisa membuat hingga tujuh atau delapan pasang dari satu ban bekas yang dibeli seharga 40 sen di pasar di kota-kota besar seperti Nairobi, kemudian dijual lagi seharga sekitar 2,40 dollar per pasang.

Biaya rendah, teruji waktu, fenomenal, tahan lama dan nyaman, sandal ban ini telah dikenal di seluruh Afrika Timur sebagai “Sepuluh Ribu Miler.”

Penduduk desa, terutama pastoralis, harus berjalan di atas medan berbatu dan berduri saat ke pasar, desa-desa tetangga, dan mengurus ternak. Semua itu membuat sepatu ban daur ulang ini menjadi produk pokok di Afrika Timur.

Menurut Betlehem Alemu, seorang pengusaha Etiopia yang menggunakan ban daur ulang untuk perusahaan ekspor sepatu bersertifikat Fair Trade-nya, soleRebels, sandal ban asli pertama kali dipakai oleh orang Etiopia pada tahun 1935 saat berperang dalam masa pendudukan Italia. Sekarang, sendal ini adalah tradisi lokal dalam hal pembuatan sepatu dan alas kaki di wilayah ini.(asm/yant)

Sumber: ntd.tv