Inspirasi

Sambil Tersenyum Ibunya Berkata “Ibu Baik-baik Saja”, 3 Jam Kemudian Sang Ibu Tewas Mengenaskan ! Dan Ketika Dia Membuka Laci Ibunya, Ternyata Selama Ini Ibunya Telah Berbohong

Kita selalu berpikir ibu cerewet, kolot, tidak bisa mengikuti perkembangan zaman, tidak mengerti apa yang dipikirkan anak-anaknya. Tapi pernahkah kamu berpikir, jika suatu haru nanti ibu sudah tiada, kebawelan atau omelan-omelan ibu itu akan menjadi perindu yang tak akan pernah terngiang lagi di telingamu !

Sebuah rumah duka di Jepang setiap tahun selalu mengundang orang-orang yang rindu sama keluarga atau teman dekat yang telah meninggal.

Mereka menuliskan kata-kata yang ingin disampaikan untuk keluarga yang sudah meninggal, kemudian pihak rumah duka akan mengubah suara hati orang-orang itu menjadi komik.

Dan pemenang tahun ini, adalah seorang pria yang kehilangan ibunya karena kecelakaan. Pria ini menemukan sebuah rahasia tersembunyi di laci meja rias ibunya, berikut mari kita simak ceritanya!

Penyakit ayah saya mulai kambuh pada tahun 2000. dan secara perlahan-lahan tidak bisa berjalan lagi.

Sejak itu, ibu mulai merawat ayah, memapah ayah yang badannya jauh lebih besar darinya. Bahkan naik tangga pun ibu selalu menggendong ayah.

Saat pulang ke rumah, saya selalu ingin membantu, tapi ibu selalu mencegah sambil tersenyum dan berkata : “Tidak apa-apa.”

Kemudian ia melanjutkan menggendong ayah dan perlahan-lahan menaiki tangga.

Suatu hari, ibu mengantar ayah ke pusat perawatan harian, ketika dalam perjalanan menuju ke supermarket untuk membeli barang, tidak disangka ibu mengalami kecelakaan, ditabrak truk yang menerobos lampu merah, dan ibu tewas di tempat.

Hari itu sebenarnya saya baru menelepon ibu, menanyakan kondisi ayah, ibu hanya berkata, “Masih seperti biasa, tidak ada perubahan.”

Saya bertanya lagi : “Bagaimana dengan bahu ibu, masih nyerihkah ? Jangan memaksakan diri bu, kataku saat itu.”

“Namun ibu selalu bilang tidak apa-apa.. ibu baik-baik saja, belum pernah ibu merasakan sesehat ini.”katanya

Itu adalah terakhir kalinya saya bicara dengan ibu, karena 3 jam setelah itu, ibunya meninggal di rumah sakit, dan dia bahkan tidak sempat bertemu dengan ibunya untuk terakhir kalinya.

Saya tidak akan pernah lupa bagaimana suasana ketika itu, saya tidak tahu bagaimana harus berbicara dengan ayahnya, namun kemudian saya mengatakan juga kepada ayahnya kalau ibu sudah meninggal, saat itu benar-benar sangat menyedihkan.

Setelah upacara pemakaman, saya pulang ke rumah, dan dari dalam laci ibu, saya menemukan banyak koyo, krim obat dan semacamnya.

Melihat isi laci itu, saya pun tidak tahan dan menangis. Saya membayangkan bagaimana tersiksanya ibunya menahan rasa sakit selama itu.

Ternyata selama itu, ibu yang selalu berkata “tidak apa-apa”, semuanya adalah bohong besar, semua itu hanya untuk menghiburnya.

Sebenarnya ibu sangat kesakitan, ibu ternyata menggunakan banyak koyo di tubuhnya. Namun ia selalu menahan semua rasa sakitnya dan memapah atau menggendong ayah naik turun tangga.

Saya sangat menyesal selalu tidak peka setiap ibu bilang, “Tidak apa-apa”, padahal ia sedang sekuat tenaga menahan sakitnya.

Saya tidak pernah mencoba untuk memahami kondisi ibu lebih lanjut. SAya percaya begitu saja setiap perkataan ibu. Padahal, mungkin saya mengetahuinya secara tidak sadar, tapi sebagai anak sulung yang bekerja jauh di luar daerah, kata “tidak apa-apa”ibu bisa membuatku lega.

Saya hanya berpikir jika kelak bisa menemui ibun di sana, Saya akan memijat bahunya dan memberitahunya apa yang saya temukan di laci meja ibu.”