Inspirasi, Jurnal Harian

Dia Sedang Memungut Botol di Tempat Sampah, Kemudian Dia Melihat Suatu Gundukan, Sejak Itu Hidupnya pun Berubah

Hampir 36 juta orang hidup dalam kemiskinan yang ekstrim di Tiongkok. Dari angka tersebut, 4 juta jiwa adalah anak di bawah usia 6 tahun.

Mereka menjalani kehidupan yang sangat sengsara, sampai-sampai untuk tetap bertahan selama 24 jam setiap hari, adalah sesuatu yang sangat berat untuk bisa dilakukan.

Di tengah begitu banyak kemiskinan, ada orang-orang yang tidak memiliki apa-apa dalam hidup, tapi ada juga yang menawarkan sedikit yang mereka miliki, dan kemudian membaginya dengan orang lain. Baik itu cinta atau barang materi lainnya.

Begitulah kasus yang terjadi pada seorang pria bernama Xiong yang tinggal di Tiongkok.

Sepuluh tahun yang lalu, Xiong sedang berkeliaran di antara tempat pembuangan sampah untuk mencari botol plastik, saat itu dia melihat suatu gundukan, yang kemudian membuatnya mengambil keputusan penting dalam hidupnya.

Di tengah gundukan sampah itu, ada sesosok bayi. Seorang bayi perempuan dengan tanda yang menunjukkan tanggal lahirnya: 15 Oktober 2007.

Xiong tahu bahwa jika dia berpaling dan pergi, bayi kecil itu tidak akan bertahan, tapi dia juga sadar bahwa dia sangat miskin sehingga jika dia mengurusnya, akan menjadi tantangan berat tersendiri.

GAMBAR

Namun, Xiong merasakan suatu hal yang sangat penting: cinta, satu-satunya hal yang dibutuhkan bayi kecil itu untuk bisa tumbuh. Jadi Xiong mengambil bayi itu dan membawanya pulang.

Bersama-sama mereka menghadapi segalanya: kelaparan, kesengsaraan, kesepian, frustrasi dan rasa sakit. Dia menamai gadis itu, Yanyan.

Bahkan, istri Xiong kemudian meninggalkan mereka dan keduanya akhirnya tinggal di bawah jembatan.

Xiong memanggil Yanyan kecil.

Setiap kali Yanyan menjalani hidup selama satu tahun lagi, ayahnya Xiong, akan mengumpulkan uang yang diperlukan untuk mengambil foto dan menangkap momen bahagia.

Keduanya saling mencintai dan saling menghargai, serta tidak dapat hidup tanpa satu sama lain.

Kehidupan mereka memang berat dan keras, namun mereka tidak pernah menyerah, Xiong sebetulnya sangat berharap agar Yanyan bisa mengenyam pendidikan, minimal bisa membaca dan menulis.

Karena itu diam-diam dia sering hanya membeli makanan untuk Yanyan, sementara dia sendiri hanya makan dengan memungut sisa-sisa serpihan makanan, dia ingin menabung untuk bisa membiayai sekolah Yanyan suatu hari.

Sesungguhnya ini cerminan bagi kita yang seolah pendidikan dan makanan di meja, adalah sesuatu yang “dianugerahkan” kepada kita dengan begitu saja, sampai mungkin terkadang kita membuang makanan sisa.

Dan mungkin terkadang kita belajar di sekolah dengan malas-malasan, sementara di luar sana, ada orang yang rela tidak makan, demi bisa belajar di sekolah!

Mari, jangan lupa untuk mensyukuri apa yang telah kita miliki, dan, jangan lupa juga untuk berbagi dengan sesama.