Inspirasi

Mengejutkan ! Inilah Proses dari Orang Miskin ke Orang Kaya

“Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin”, kita pasti pernah mendengar istilah seperti ini, bukan?

Perbedaan akses terhadap sumber-sumber penghidupan dan segala kemudahan di dalam menjalani hari-harilah yang pada akhirnya melahirkan perbedaan di antara orang miskin dan orang kaya.

Namun, satu hal yang tak kalah penting dan memiliki peran besar di dalam terbentuknya perbedaan tersebut adalah pola pikir manusia yang juga akan berpengaruh pada tingkat kesejahteraan yang akan dicapainya di dalam kehidupannya.

Pertama : Manfaatkan biaya hidup menjadi modal pertama

Seseorang membeli 50 pasang sepatu dengan modal 1 juta, kemudian dijual 30 ribu per pasang, total mendapatkan 1,5 juta. Sementara satu orang lainnya yang miskin, menerima tunjangan hidup 1 juta per bulan, semua digunakan untuk membeli beras, garam dan minyak.

Sama-sama punya nilai uang yang sama 1 juta rupiah, tapi orang pertama di atas meningkatkan nilai uangnya menjadi modal. Sementara orang miskin, nilai uangnya tetap tidak berubah, tak lebih hanya berupa biaya hidup.

Masalahnya orang miskin adalah, sulit bagi mereka untuk mengubah uang dari biaya hidup mereka itu menjadi modal, selain itu juga tidak memilik kemampuan serta keterampilan mengelola modalnya. Oleh karena itu, orang miskin hanya akan selalu miskin.

Filosofi Kekayaan: Keinginan adalah dorongan terbesar dalam hidup manusia. Hanya orang-orang yang penuh dengan keinginan akan kekayaan dan menikmati kesenangan menghasilkan uang dalam proses investasinya itu, baru dapat mengubah biaya hidupnya menjadi “modal utama”, sekaligus mengumpulkan pengalaman dan keterampilan mengelola modal untuk mendapatkan kesuksesan akhir.

Kedua : kesulitan terbesar beberapa tahun pertama

Sebenarnya, orang miskin yang ingin menjadi kaya, kesulitan terbesar adalah beberapa tahun pertama.

Ada satu hukum kekayaan: Bagi mereka yang mandiri dari awal, jika jutaan pertama menghabiskan 10 tahun, maka dari 1 juta menjadi 10 juta , mungkin hanya butuh 5 tahun, lalu dari 10 juta menjadi 100 juta , hanya tiga tahun sudah cukup.

Hukum kekayaan ini memberi tahu kita: Karena Anda sudah memiliki banyak pengalaman dan modal awal, sama seperti mobil yang telah melaju, kecepatannya telah ditambahkan, hanya perlu dengan mudah menginjak pedal gas, mobil pun akan melesat dengan cepat.

Lima tahun pertama mungkin merupakan waktu yang terberat, tapi setelah itu akan semakin menyenangkan dan mudah.

Filosofi kekayaan: Orang miskin bukan hanya tidak memiliki modal, masalah yang lebih besar adalah kurangnya kesadaran modal, tidak punya pengalaman dan ketrampilan dalam mengelola modal. Jika uang orang miskin bukan modal, maka ia hanya akan tetap miskin terus.

Ketiga : Kekayaan orang miskin hanya otak

Orang miskin adalah sebuah kelompok yang paling rentan, tidak pernah memahami situasi ini. Seringkali mereka tidak dapat mengatur diri mereka sendiri, apalagi mempengaruhi orang lain.

Yang kurang dari Investasi orang miskin itu bukan hanya sekedar uang, tapi keberanian untuk bertindak, kecerdasan ide dan dorongan finansial.

Apa sumber yang paling berharga bagi orang miskin? Bukan segelintir tabungan yang terbatas, juga bukan fisik yang kuat, tapi otak.

Dulu, saya selalu berpikir bahwa pikiran itu adalah kekayaan spiritual yang berharga. Sebenarnya, di era kita, gagasan bukan hanya kekayaan spiritual, tapi juga kekayaan berwujud materialistis.

Satu gagasan mungkin menelurkan sebuah industri, atau perubahan aktivitas bisnis yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Filosofi Kekayaan: Perbedaan paling mendasar antara manusia bukan pada postur tinggi atau pendek, gemuk atau kurus, tapi otak yang berisi pengetahuan mengelola, kepribadian finansial, dan pemikiran finansial.

Keempat : Pendidikan adalah investasi terbesar

Pendidikan hanyalah bukti dari pendidikan umum, yang dipelajari di sekolah hanya beberapa pengetahuan dasar yang komprehensif, dan seseorang perlu belajar seumur hidup.

Filosofi Kekayaan: Pendidikan adalah investasi terbesar, bagi banyak orang miskin, nasib mereka terkait erat dengan tingkat pendidikan.

Karena kemiskinan bukanlah dosa, tapi orang-orang dalam kemiskinan mau tidak mau harus menanggung konsekuensinya.

Kelima : Jangan beralasan kemiskinan Anda itu karena nasib

Setiap orang sudah banyak mendengar terkait cerita tentang modal. Sebagai contoh, seorang nenek asal Amerika membeli 100 saham Coca-Cola, setelah beberapa dekade kemudian sang nenek menjadi multi-jutawan ; Seorang wanita tua di Tiongkok, menutupi original issue stock (saham) selama 10 tahun dan menjadi wanita super kaya.

Tokoh utama dalam cerita ini adalah wanita tua, bodoh dan berotak tumpul, tapi bisa kaya secara mendadak dengan cara seperti itu.

Secara teori, baik investasi dari nenek asal Amerika dan nenek di Tiongkok itu adalah investasi yang sukses, namun bagi banyak orang, sangat sulit untuk mempromosikan nilainya.

Mengapa dua wanita tua itu bisa bertahan menutup saham mereka? Bukan analisis yang rasional, juga bukan keyakinan yang teguh, tapi tidak mengerti apa-apa, entah apakah karena terlupakan, atau faktor keberuntungan.

Orang miskin mengaitkan banyak hal dengan keberuntungan. Karena hanya faktor keberuntungan adalah alasan terbaik yang bisa mereka jadikan pembenaran atas kemiskinannya karena nasib.

Filosofi Kekayaan: Di era ekonomi komoditas, setiap orang akan memiliki keberuntungan. Mendapatkan sesuatu tanpa kerja, bukan hanya memalukan, tapi juga mustahil.

Alasan mengapa seseorang memiliki hak atas penghasilan adalah karena ia telah menghasilkan sebuah produk untuk masyarakat dan masyarakat mengembalikannya.

Filsafat Kekayaan: Orang kaya mengandalkan modal untuk menghasilkan uang, sementara orang miskin menghasilkan uang dengan pengetahuan. Mengandalkan pengetahuan sebagai modal, ingin meraih mimpi dengan tangan kosong mungkin merupakan impian yang paing gemilang dan terakhir bagi para kaum miskin.

Namun, sangat sulit bagi seseorang yang hidup di lapisan bawah memiliki sikap yang tidak biasa. Yang paling kurang pada orang miskin itu sebenarnya adalah kepercayaan diri!