Kisah Nyata : Pekerja Sosial Ini Mengajak Lima Anak yang Kelaparan Makan Siang, Setelah Terdiam Lama di Tempat Duduk, Tiba-tiba Sang Adik Berkata “Kami Hanya Ingin Satu ‘Mangkuk Mie’ Saja”!

Kisah ini terjadi di Nantou, Taiwan, yang menyentuh kalbu masyarakat dan diliput langsung oleh media setempat.

Di rumah sakit, lima bocah bergantian menemani ibunya yang terbaring di tempat tidur pasien. Dokter mengatakan kepada mereka bahwa “waktu ibu mereka tidak banyak lagi!”

Sikap kelima bocah ini cukup dewasa meski masih kecil, mereka menemani ibunya dengan tenang, yang membuat dokter maupun para perawat rumah sakit tersentuh.

Sementara ayah mereka bekerja keras siang dan malam untuk mengumpulkan biaya pengobatan rumah sakit.

Pada hari itu, Irene, seorang pekerja sosial di rumah sakit melihat anak-anak yang kelaparan, dan tak tahan mengatakan, “Cuaca sangat dingin dan perut sangat lapar, kakak traktir kalian makan mie, mau gak ?”

Anak-anak itu pun mengangguk secara spontan.

Saat ke kedai mie, pekerja sosial yang masih muda itu tampak berpikir : “Apa aku pesan saja setiap orang satu mangkuk mie daging untuk mereka yang sudah sangat lapar ini, ya ? Tapi entah uangku cukup atau tidak ?” Pikir Irene.

Setelah duduk di kedai mie, Irene bertanya kepada anak-anak, “Kalian mau makan apa ? Kakak yang bayar!”

Dua bocah itu pun langsung duduk dan menatap diam pada adik perempuannya.

Ia melihat adik perempuannya menatap lama daftar menu di mejanya, dan akhirnya berkata pelan, “Kakak, cukup satu mangkuk mie saja untuk kami!”

Irene terhenyak dan seketika merasa malu begitu mendengar kata-katanya.

Benar-benar memalukan, pikirnya. Bahkan tadi Irene sempat berpikir, apa anak-anak ini tidak akan memanfaatkan kesempatan ini ya untuk memesan makanan yang mahal?

Tapi ketika mendengar mereka berkata seperti itu, ia pun diam seketika, merasa malu, karena berpikir negatif dulu pada mereka. Sekarang ia hanya memesan mie polos yang paling murah di kedai tersebut.

“Apa kalian mau memesan sayur lainnya ?”tanya Irene sambil tersenyum.

“Tidak kak!” Anak-anak itu serentak menggelengkan kepalanya.

Irene kembali dikejutkan oleh sikap mereka, ia merasa kali ini mendapat pelajaran berharga dari para guru-guru belia ini, sehingga membuatnya harus lebih memahami akan prinsip rendah hati dalam hidupnya nanti!

Untuk menebus hati nuraninya yang merasa bersalah karena prasangka buruknya terhadap mereka tadi, Irene kemudian memesan mie pangsit untuk anak-anak.

Tapi ketika mie pangsitnya di bawa ke meja, anak-anak hanya menatap diam, entah karena mereka tidak berani makan atau enggan memakannya ?

Irene yang melihat suasana canggung seperti itu lalu bertanya kepada mereka.

“Enak tidak ?”

“Enak.”

“Kuahnya terlalu panas ya?”

“Tidak,” jawab bocah perempuan mewakili saudaranya.

“Kalian harus makan yang banyak ya, kenapa tidak makan pangsitnya ? Pangsitnya harus dimakan selagi panas, baru enak. Kalau tidak cukup, kakak pesan semangkuk lagi!”

Bocah perempuan itu tampak menundukkan kepala, dan dengan suara yang sangat pelan berkata pada Irene : “Sudah lama ayah dan ibu tidak makan mie pangsit seperti ini lagi !”

Irene tercengang sejenak mendengar itu, tapi Irene berkata pelan pada mereka : “Jangan khawatir, setelah kalian selesai makan, kakak akan pesan dua bungkus lagi untuk ayah-ibu kalian! Gimana setuju ?”

Setelah mendapat jaminan, kelima bocah polos itu baru bisa makan dengan tenang.

Namun, anak-anak nampaknya enggan menghabiskan lebih banyak lagi uang Irene, baru makan beberapa suap, si bocah perempuan kemudian berkata : “ Sisanya ini kami bungkus saja untuk ayah di rumah, kakak cukup beli satu bungkus saja untuk ibu!”

Setelah mendengar kata-kata polos bocah perempuan itu, Irene terhenyak sesaat, perubahan duniawi seperti apa ini, menciptakan jiwa belia yang begitu cepat dewasa, pikir Irene!

“Kakak, terima kasih.” Kata si bocah perempuan seusai makan.

“Terima kasih, kakak.”Timpa seorang bocah laki-laki ikut bicara dengan suara sangat pelan.

Banyak orang selalu merasa bahwa kehidupan sehari-hari yang mereka terima memang sudah sewajarnya seperti itu.

Irene tiba-tiba menyadari bahwa ternyata…orang yang tahu bersyukur dan menghargai itu bisa begiu menyentuh kalbu, merasakan “sukacita” dan “kebahagiaan” dalam hatinya !

Ilustrasi

Kisah mie ini seketika menyentuh hati masyarakat setempat setelah diposting ke internet dan terus berlanjut pasca kematian ibu mereka.

Mereka tidak menyerah pada nasib, berjanji akan bekerja keras menjadi orang yang baik, dan berjanji pada ayah mereka untuk hidup lebih baik.

Dan setelah kematian ibunya, kelima anak ini menunjukkan prestasinya masing, dalam berbagai bidang.

Ketika menghadapi kondisi yang sulit dan tertekan, ada yang berpikiran pendek dengan mengakhiri hidupnya, ada yang putus asa dan menyerah pada nasib.

Sementara kelima bocah di atas justeru bisa hidup dengan “sikap” yang menyentuh orang-orang ketika mereka menghadapi nasib yang buruk.