Jurnal Harian

Siswa SMP Ini Dihukum Berdiri karena Sebuah Kesalahan di Sekolah. Tak Disangka Saat Hukuman, Dia Tewas karena Sakit Jantung. Haruskah Sang Guru Bertanggungjawab Penuh?

Ini adalah sebuah kisah nyata, tujuan ditulisnya artikel ini ingin berdiskusi dengan sesama pembaca.

Beberapa waktu lalu ketika sedang ngobrol dengan Andy (samaran), dimana karena siswa pindah ke sekolah yang baru, sehingga semua siswa pun tampak bersuka cita mengenang masa-masa bahagia di bangku SMP dulu.

Tentu saja dalam obrolan itu mereka juga membicarakan tentang guru mereka.

Diketahui, guru-guru waktu itu semuanya lengkap. Kepala sekolah sekarang adalah guru matematika kelas satu SMP saya ketika itu.

Ketika saya masih di bangku SMP, dia (guru) yang baru lulus dari perguruan tinggi, telah menjadi sekretaris dewan sekolah SMP.

Dia punya wibawa yang tinggi di kalangan siswa, dan sangat dihormati oleh para siswa.

Kira-kira saat saya masih kuliah ketika itu. Tanpa sengaja mengobrol tentang dia, Saya menceritakan kepada saudara saya, bahwa dia hampir dibatalkan kualifikasinya sebagai guru.

Internet

Masalahnya karena terjadi kecelakaan fatal saat menghukum seorang siswa.

Begini kronologinya. Pada saat itu, dia sudah menjadi kepala administrator sekolah.

Suatu hari, ketika sedang inspeksi tidur siang siswa, dia melihat ada dua siswa yang tidak tidur.

Kedua siswa ini bercanda dan ribut-ribut di kamar tidur.

Agar tidak mempengaruhi istirahat siang siang lainnya, dia membawa kedua siswa itu ke kantornya.

Setelah memberikan beberapa nasihat, dia melihat waktu istirahat siang akan segera berakhir.

Dia pun berpikir, kalau membiarkan kedua siswa itu kembali ke kamar tidur, pasti akan mempengaruhi siswa lainnya, lagi pula mereka juga tidak bisa beristirahat.

Jadi dia pun menyuruh kedua siswa itu berdiri di depan kantornya dan menunggu sampai bel istirahat.

Namun tak disangka, terjadilah kecelakaan fatal.

Salah satu siswa yang dihukum berdiri itu tiba-tiba pingsan, dan dengan cepat dia pun segera membawa siswanya ke rumah sakit.

Namun, malang bagi siswa itu, ia meninggal dunia setelah diupayakan penyelamatan. Ternyata siswa itu menderita penyakit jantung.

Karena kematian siswa tersebut, orang tua korban sangat sedih dan melemparkan semua tanggung jawab itu kepadanya.

Meskipun saya mendengar dia punya hubungan dekat dengan pejabat di kota, tapi bagaimanapun juga itu adalah sebuah nyawa.

Internet

Di bawah desakan bertubi-tubi dari orang tua korban, departemen pendidikan setempat terpaksa mencopot jabatannya, dan memindahkannya ke sekolah desa.

Saya dengar istrinya menceraikannya karena kasus itu.

Bagaimana menurut Anda mengenai hal ini, haruskah guru tersebut bertanggung jawab penuh, mengingat siswa itu juga menderita penyakit jantung?

Sekarang dianjurkan persuasi pendidikan. Negara tidak membolehkan hukuman fisik kepada siswa, walaupun niat awalnya baik.

Namun karakter para siswa berbeda, persuasi pendidikan bagi beberapa siswa sama sekali tidak efektif.

Internet

Karena itulah, guru sekarang berkata, “Terlalu sulit menangani siswa zaman sekarang, dipukul tidak boleh, juga tidak boleh dimarahi!”

Siswa tahun 1980 dan 1990-an mana yang tidak pernah dihukum fisik oleh guru, pendidikan harus didasarkan pada kemampuan dan bakat (minat) siswa.

Selama tidak berdampak negatif pada kesehatan siswa, pendidikan dengan hukuman fisik yang ideal bisa memberikan efek pendidikan yang lebih baik!