Kisah mengharukan dari seorang anak yang menjadi penganti kedua orang tuanya

3 tahun yang lalu, ayahnya meninggal, sedangkan ibunya pergi meninggalkannya. Anak laki-laki berusia 11 tahun ini merawat adik-adiknya dengan telaten selama 3 tahun terakhir.

Ia menulis dalam buku harian mendorong semangatnya sendiri, sungguh memilukan.

Di Kabupaten Xia Xizhen, Distrik Wanshan, Tiongkok, bergema suara lonceng tanda pulang sekolah, seorang bocah usia 11 tahun bernama Yuan tampak tergesa-gesa keluar dari dalam kelas.

Dari sekolah untuk pulang ke rumah, ia menelusuri jalan berbukit sepanjang 6 km. Tanpa terasa, kurang dari setengah jam kemudian ia pun tiba di rumah.

Ia terburu-buru karena mencemaskan satu adik laki-lakinya yang baru berusia 3 tahun dan seorang adik perempuannya yang berusia 5 tahun.

Yuan yang berusia 11 tahun ini bertindak sebagai “orangtua” bagi kedua adiknya yang masih kecil. Sudah lebih dari 3 tahun Yuan merawat kedua adiknya.

Ayah ketiga bersaudara ini meninggal karena sakit, sementara ibunya mengalami gangguan mental tak sanggup menerima cobaan hidup, lalu kabur dari rumah, dan hingga sekarang tidak ada kabar beritanya.

“Saat saya berangkat sekolah, maka tidak ada orang di rumah yang menjaga mereka, minggu lalu sang adik bahkan dicakar kucing liar.” Yuan tampak cemas saat berbicara mengenai adik-adiknya.

Biasanya dia membawa serta kedua adiknya ke sekolah, terkadang minta tolong kakek-nenek sedesanya untuk membantu menjaga mereka.

Kebetulan hari ini libur karena sekolah membagikan buku baru, jadi dia membiarkan kedua adiknya di rumah.

Begitu sampai di gerbang desa, adik perempuannya yang berusai 5 tahun dan adik laki-laki berusia 3 tahun tampak sedang bermain lumpur, melihat kakaknya pulang, mereka pun berhamburan memeluknya.

Ketiga bersaudara itu berjalan pulang ke rumah sambil bergandeng tangan.

Sebuah rumah beratap genteng yang lusuh dan goyah, sebuah tempat tidur, satu wajan dan beberapa mangkuk, hanya inilah barang milik mereka.

Yuan masuk ke dalam rumah, dan sebelum sempat minum seteguki air, ia langsung menyalakan tungku api untuk memasak.

Karena kepergian orangtuanya, Yuan mulai memikul beban sebagai kepala keluarga pada usia 8 tahun.

Selama 3 tahun, hal pertama yang ia kerjakan adalah memasak untuk adik-adiknya setiap hari sepulang sekolah.

Tak lama kemudian, dia pun membawa keluar sepanci besar sup labu, dan inilah menu makan malam mereka bertiga.

“Malamnya sekitar jam 7, Yuan memandikan adik-adiknya, kemudian mencuci pakaian mereka.

Setelah menyelesaikan semua pekerjaannya, sudah jam 9 malam. Saat itu, kakeknya yang kerja di luar juga baru pulang.

Sang kakek yang sudah cukup tua bekerja serabutan dengan penghasilan sekitar 200 ribu sebulan.

Untuk mendapatkan uang lebih banyak, sang kakek tinggal di tempat kerjanya dan baru pulang dua minggu sekali.

jurnalteman.com

Berbicara tentang ketiga anak yang malang ini, kakek Yuan yang sudah berusia 69 tahun ini tidak bisa menahan air matanya.

Tiga tahun yang lalu, putranya yang bekerja di Zhejiang, didiagnosis menderita uremia.

“Saat itu, kami menjual semua barang yang berharga di rumah untuk biaya pengobatannya, meminjam uang ke sanak keluarga dan teman, total menghabiskan120 juta rupiah hanya untuk biaya pengobatannya, tapi akhirnya dia pergi juga.”

Setelah kematian anaknya, cucunya yang paling kecil baru lahir, sedangkan menantunya kabur dari rumah karena tak tahan dengan tekanan hidup saat usia cucunya genap satu bulan. Hingga kini tidak ada kabar tentangnya.

Selama 3 tahun, sang kakak Yuan tidak pernah bisa santai sekejab pun, setiap hari bangun jam 6 pagi dan menyiapkan sarapan untuk adik-adiknya.

Pulang sekolah, Yuan buru-buru pulang ke rumah untuk memasak.

“Ayah-ibu telah pergi, saya harus bisa merawat dan menjaga adik-adik dengan baik, sesulit dan selelah apa pun saya tetap akan memikul beban keluarga ini.” Tulis sang kakak Yuan dalam buku hariannya.