Berita Nasional

50 ton minyak sawit tumpah di Teluk Bayur, sanksi menanti perusahaan

Sedikitnya 50 ton minyak sawit milik sebuah perusahaan tumpah di perairan Teluk Bayur, Sumatera Barat, pada Jumat (29/09) pagi. Hukuman terhadap perusahaan tersebut akan dijatuhkan.
Tumpahan minyak sawit itu tampak telah menutupi sekitar satu hektare permukaan laut. Akibatnya, kawasan di perairan Teluk Bayur terlihat menguning.
Pihak PT Wira Innomas mengakui bahwa minyak sawit yang tumpah berasal dari pabrik miliknya.
‘Tiga juta popok bayi’ setiap hari cemari Sungai Brantas di Jawa Timur
Tercemar merkuri, kerang hijau dari Teluk Jakarta ‘sebabkan kanker’
Bertandang ke Curug Jompong yang ‘beracun’ di Jawa Barat
Pejabat humas PT Wira Innomas, Gunawan, mengatakan jumlah minyak yang tumpah mencapai 50 ton dan disebabkan karena kebocoran pipa. “Ini minyak nabati murni dan bukan limbah yang tumpah,” katanya.
Dia menyebutkan, pihaknya saat ini masih melakukan upaya pembersihan laut dari tumpahan minyak tersebut.
Sementara itu, Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Teluk Bayur sudah membentangkan pembatas sepanjang 500 meter agar tumpahan minyak sawit tidak meluas.
“Alat ini juga digunakan agar tumpahan minyak tidak menganggu kapal lain,” kata Humas Pelindo Teluk Bayur, Muhammad Taufik, sebagaimana dikutip wartawan di Sumatera Barat, Agus Embun.
Sanksi pada perusahaan
Pemerintah Kota Padang mengancam bakal mencabut izin PT Wira Innomas terkait kebocoran pipa yang menyebabkan pencemaran perairan Teluk Bayur, Kota Padang. Sanksi pencabutan izin sesuai dengan Undang Undang No. 32 Tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang menilai perusahaan itu telah lalai dalam mengontrol alat operasional perusahaan sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan perairan.
“Walaupun ini insiden, tapi ada kelalaiannya dalam mengelola perusahaan. Kami bisa memberhentikan perusahaan tanpa ada teguran. Tapi, kami akan berlakukan sanksi paksaan pemerintah,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Padang, Al Amin.

Direktur Walhi (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia) Sumatera Barat, Uslaini, mengecam tumpahan minyak sawit di Teluk Bayur. Menurutnya, minyak tersebut akan menyebabkan punahnya biota laut yang hidup di perairan dangkal dengan kedalaman 0-200 meter, seperti ikan Pelagis, kura-kura, serta terumbu karang
“Minyak kelapa sawit jika terbuang ke lingkungan akan menjadi bahan pencemar yang berbahaya bagi lingkungan. Hal ini disebabkan karena minyak kelapa sawit mengandung BOD (Biological Oxigen Demand) yang tinggi dan tentu sangat berbahaya bagi biota laut,” katanya.
Molekul minyak, menurutnya, akan menghalangi proses fotosintesis dan respirasi biota laut. Dalam jangka panjang akan memicu terjadinya coral bleaching dan kematian biota laut.
Tidak hanya habitat laut, cemaran minyak sawit juga akan mempengaruhi jenis burung yang selama ini mencari ikan sebagai sumber makanan mereka di kawasan itu. Mereka akan memakan ikan yang sudah keracunan atau tercemar minyak sawit sehingga burung camar atau bangau akan ikut teracuni.
“Pemerintah harus bertindak tegas supaya tidak terulang hal serupa di kemudian hari. Kami berharap Dinas Lingkungan Hidup Sumatera Barat dan pihak terkait lainnya bergerak cepat untuk menangani persoalan ini, mengingat di lokasi yang sama banyak usaha sejenis yang berpotensi menimbulkan dampak yang sama ke depan,” kata Uslaini.
Terkait dengan kelalaian perusahaan dalam mengelola usahanya sehingga menimbulkan pencemaran, dia mendorong agar pemerintah provinsi bertindak tegas untuk mengevaluasi izin lingkungan yang dimiliki oleh perusahaan.
“Perlu segera dilakukan review terhadap dokumen lingkungan perusahaan khususnya dalam hal pencegahan dan pengendalian dampak lingkungan dari usaha perusahaan,” tegasnya.