Berita Nasional

Donald Trump dan Kim Jong Un Seperti Anak TK

Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov, menyebut, perang kata-kata yang terjadi antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un layaknya pertikaian dua orang bocah di taman kanak-kanak.

Sebelumnya, Kim menyebut Trump sebagai “orang gila” dan “manula”. Pernyataan Kim itu merespons pidato yang disampaikan Trump di depan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB),

Korea Utara, kata Kim, akan mempertimbangkan untuk menempuh “aksi balasan garis keras tertinggi” agar Trump “membayar mahal atas pidatonya”.

Kim mengakhiri pernyataannya dengan menekankan bahwa dia “pasti akan menjinakkan manula AS yang gila itu dengan api”.

Sebut Trump Orang Gila, Kim Jong Un Makin Yakin Tindakannya Benar

Trump merespons melalui media sosial twitter dengan menyebut Kim sebagai “orang sinting”.

Dalam pidatonya di depan Sidang Umum PBB, Trump mengancam akan menghacurkan total Korea Utara jika negeri itu terus mengancam Amerika dan sekutunya. Trump menyebut Kim sebagai “manusia roket”.

Lavrov mengatakan, saat ini diperlukan rehat sejenak untuk mendinginkan kepala yang panas menyusul serangkaian uji coba rudal balistik Korea Utara selama beberapa bulan terakhir.

“Ya memang tidak bisa diterima menyaksikan petualangan nuklir militer Korea Utara dengan diam, tapi juga tidak bisa diterima memicu perang di Semenanjung Korea,” ujar diplomat senior tersebut.

Ketimbang saling adu kata-kata, Lavrov menyerukan agar proses politik atas Korea Utara terus berlangsung di Dewan Keamanan PBB. Menurutnya, ini adalah kunci untuk menyelesaikan krisis di semenanjung Korea.

“Bersama dengan Cina, kami akan terus memperjuangkan pendekatan dengan akal sehat, bukan menggunakan emosi seperti ketika sesama bocah di taman kanak-kanak saling berkelahi dan tiada seorang pun yang bisa menghentikan mereka,” kata dia.

Sementara, China juga menyerukan agar Trump dan Kim saling menahan diri.

“Semua pihak terkait sebaiknya menahan diri. Jangan memprovokasi satu sama lain,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Lu Kang.