Jerman dan Uni Eropa Kembali Jaga Ketat Perbatasan

JURNALTEMAN | Jerman dan Uni Eropa Kembali Jaga Ketat PerbatasanJURNALTEMAN | Jerman dan Uni Eropa Kembali Jaga Ketat Perbatasan

JURNALTEMAN | Jerman dan Uni Eropa Kembali Jaga Ketat Perbatasan, BERLIN - Kanselir Jerman, Angela Merkel menegur Uni Eropa (UE) untuk menegakkan kontrol perbatasan yang lebih ketat di zona Schengen setelah menerima laporan rahasia adanya teroris potensial masuk melalui perbatasan. Teguran Jerman disampaikan dalam pertemuan antarduta besar Uni Eropa di ibukota de facto UE yaitu Brussels, Belgia. Jerman mengungkapkan, fungsi filter perbatasan eksternal tidak bekerja dengan baik.

Dilansir dari Express, Senin (12/12/2016) zona Schengen memungkinkan pergerakan bebas imigran atau orang luar Jerman dari 26 negara anggota UE, tanpa pemeriksaan paspor . Tekanan pada UE terus meningkat akibat dianggap gagal mengantisipasi masalah teror hingga membuat meningkatnya serangan di seluruh wilayah benua.

Pada 2015 sekira 1 juta imigran masuk ke wilayah Eropa. Menurut Eurostat (Kantor Statistik Komunitas Eropa) beberapa wilayah di Schengen telah kembali menerapkan pemeriksaan dalam upaya kontrol atas perbatasan. Salah satu kekuatan besar di UE, yakni Jerman, telah melakukan kembali kontrol perbatasan meskipun Menteri Dalam Negeri Jerman, Thomas de Maiziere mengklaim pemeriksaan di perbatasan hanya akan berlangsung sementara. De Maiziere mengimbuhkan, mereka telah beberapa kali melakukan perpanjangan proses pemeriksaan perbatasan Schengen dan akan berjalan sampai pertengahan Februari tahun depan.

Berdasarkan laporan Der Spiegel, langkah Jerman untuk mengamankan perbatasannya di tengah kekhawatiran teror ditanggapi dengan skeptis oleh beberapa anggota Komisi Uni Eropa. Mereka berpendapat Merkel harus memberikan informasi "rinci" tentang peningkatan ancaman teror jika ingin terus memaksakan kontrol perbatasan. Akibat hal tersebut, parlemen kiri Jerman, juga turut mengecam UE.

"Kami harus berjuang untuk terbuka. Kembali menerapkan perbatasan nasional adalah cara yang salah," ujar seorang anggota parlemen kiri Jerman, Ulla Jelske.

Permintaan Jerman terkait kontrol perbatasan pada UE muncul sekira sebulan yang lalu setelah UE berjanji akan melakukan pemeriksaan imigran ilegal dan radikal di antara wilayah Jerman, Austria, Swedia, Denmark dan Norwegia. Sementara itu, pejabat berwenang Denmark dan Swedia menyatakan keinginan mereka untuk melanjutkan kontrol perbatasan.

"Saya melihat ini sebagai hal penting jika Denmark terus memiliki kontrol perbatasan," tutur Menteri Integrasi Denmark, Anders Stojberg. Sementara itu perwakilan dari Swedia, Anders Ygeman juga mengungkapkan sepakat tentang perlunya kontrol perbatasan.

Jerman telah mengalami krisis beban migran yang semakin bertambah jumlahnya dalam beberapa tahun terakhir. Tahun lalu, sekira 1 juta migran menetap di Jerman setelah Merkel mengeluarkan kebijakan menerima imigran dengan melihat mereka sebagai pendatang yang dilanda perang di Afrika dan Timur Tengah. Namun, Merkel menyatakan tidak akan melakukan kebijakan ini lagi.