Jurnal Harian

JURNALTEMAN | Media China AS dan Korsel Akan Membayar untuk Sistem Misilnya

JURNALTEMAN | Media China AS dan Korsel Akan Membayar untuk Sistem MisilnyaJURNALTEMAN | Media China AS dan Korsel Akan Membayar untuk Sistem Misilnya

JURNALTEMAN | Media China AS dan Korsel Akan Membayar untuk Sistem Misilnya, BEIJING – Surat kabar People’s Daily, media yang selama ini menjadi corong Partai Komunis China, mengecam keras penempatan sistem pertahanan rudal THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) hasil kerjasama Korea Selatan (Korsel) dan Amerika Serikat (AS).

Di bawah nama pena Zhong Sheng, surat kabar tersebut percaya AS dan Korsel ditakdirkan membayar harga yang pantas untuk persenjataan militernya tersebut. China menilai penempatan sistem pertahanan rudal canggih itu hanya akan meningkatkan ketegangan di semenanjung, serta memprovokasi serangan balik dari rivalnya, Korea Utara.

“Seperti negara lain, China tidak akan menjadi bias dan membiarkan masalah keamanan memengaruhi kepentingan nasional,” tulis Zhong Sheng, kolumnis China yang biasa mengulas kebijakan luar negeri, seperti dikutip dari The Guardian, Sabtu (1/10/2016).

Lebih lanjut pengamat politik luar negeri tersebut menyarankan AS dan Korsel bangun dari mimpinya. Ia mengatakan, mereka harus sadar bahwa Semenanjung Korea bukanlah kawasan yang tepat untuk mengambil risiko dari penempatan THAAD.

“Jika Amerika Serikat dan Korea Selatan mencederai kepentingan strategi keamanan negara di kawasan, termasuk China, mereka pasti akan membayar harganya untuk semua ini dan menerima serangan balik yang pantas,” tambahnya.

Ketegangan di Semenanjung Korea terus meningkat skalanya dalam setahun belakangan. Korsel bersekutu dengan AS lalu menempatkan sistem misil THAAD di Seongju. Namun mendapat tentangan besar dari dalam maupun luar negeri. Alhasil, militer Korsel mengusulkan sistem misil tersebut dipindahkan ke lapangan golf milik Lotte Skyhill Seongju Country Club.

AS dan Korsel menegaskan, penempatan THAAD sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengancam keamanan China. Mereka hanya merasa terancam dengan rudal-rudal Korut dan merupakan suatu hal yang wajar untuk membangun benteng pertahanan yang canggih demi melindungi keutuhan negaranya.

China selama ini dikenal sebagai sekutu terdekat dari Korut. Segala sanksi telah dijatuhkan untuk menahan amukan rudal balistik Korut. Namun, tak satu sanksi pun berhasil menyurutkan uji coba provokatif mereka ke perairan Korsel dan Jepang.

Menteri Luar Negeri AS John Kerry pernah mengatakan, satu-satunya pihak yang bisa menghentikan Kim Jong-un CS adalah China. Bagi Pyongyang, China adalah rekan diplomasi dan ekonomi terbesarnya. China pun geram dengan kenakalan Jong-un, tetapi tetap menjadi pendukung setianya.