Jurnal Harian

Tarmizi Karim Mengaku sebagai Petugas Partai

09 Agustus 2016 14:43 WIB

3qyu6coe

( Sekretaris Bappilu DPP Partai Nasdem, Willy Aditya, menyerahkan dokumen untuk mengusung pasangan Tarmizi A. Karim (kemeja putih) dan Zaini Djalil dalam Pilgub Aceh 2017. Foto: Metrotvnews.com/Nurul Fajri )

Jurnalteman.com, Banda Aceh: Calon gubernur Aceh periode 2017-2022, Tarmizi A. Karim, yang diusung Partai NasDem, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) mengaku sebagai petugas partai.

“Saya dipercaya partai untuk membangun Aceh,” kata Tarmizi dalam konferensi pers di Kantor DPW Partai NasDem Aceh, Selasa (9/8/2016).

Tarmizi mengatakan ketiga partai yang mengusungnya percaya bahwa dirinya bisa memajukan kesejahteraan masyarakat di Aceh. Dia juga mengklaim pemerintah daerah mendukungnya menjadi calon gubernur Aceh.

Baginya, upaya membangun Aceh juga dilakukan oleh mantan kombatan yang pernah berjuang semasa konflik Aceh. “Dalam membenahi Aceh, saya akan mengajak seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.

Tarmizi Karim maju dalam Pilkada Aceh 2017 bersama Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) NasDem Aceh, Zaini Djalil. Penetapan ini berlangsung di Kantor DPW Partai NasDem di Banda Aceh, Selasa 9 Agustus.

Sekretaris Bappilu DPP Partai NasDem, Willy Aditya, mengatakan penetapan pasangan tersebut sesuai hasil survei elektabilitas dan kapasitas. Selain itu, rekam jejak keduanya dinilai bagus.

Tarmizi, ungkapnya, tepat untuk memimpin Aceh. Nama Tamizi tak lagi asing. Sebab Tarmizi pernah berperan sebagai Pelaksana tugas (Plt) gubernur di beberapa daerah, termasuk Aceh.

“Oleh sebab itu, NasDem memutuskan kepada putra Aceh yang memiliki karier di tingkat nasional dan terpanggil untuk membangun Aceh,” kata Willy.

Selain Tarmizi, beberapa nama masuk dalam survei NasDem. Namun, hasil survei menyebutkan elektabilitas Tarmizi mengungguli nama-nama lain seperti mantan Gubernur Aceh 2009-2012 Irwandi Yusuf, Gubernur Aceh Zaini Abdullah, dan Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf.

NasDem memiliki modal delapan kursi di DPR Aceh untuk mengusung pasangan calon. Namun, jumlah itu tak mencukupi syarat untuk mengusung calon sendiri, yaitu 10 kursi. Lantaran itu, NasDem berkoalisi dengan PPP (6 kursi) dan PKPI (1 kursi).